Perkenalkan, saya Felix Culpa, lelaki yang beranjak memasuki usia 25. Nama saya, Felix Culpa, berarti “dosa yang membahagiakan” atau “dosa yang memberikan kenikmatan”. Ketika menanyakan alasan penyematan nama tersebut, orang tua hanya mengatakan bahwa “suatu saat kauakan mengerti ketika menjeluki hidup sebagai pemaknaan dan penyingkapan mengenai realitas qua realitas”.
Sejak 10 tahun berlalu, ketika pertanyaan tersebut terlontar, sekarang saya memahami makna dari Felix Culpa dan perkataan yang dimaksudkan oleh orangtua. Saya bersyukur disematkan nama tersebut oleh orangtua. Sebelumnya, saya merasa janggal, untunglah tidak semua orang mengetahui arti nama tersebut. Paling banter, orang hanya mengomentari bahwa nama saya terdengar keren ketika dilafalkan. Saya hanya terdiam.
Felix Culpa, pada akhirnya tidak hanya menjadi nama diri saya saja, melainkan sikap saya dalam memaknai hidup ini. Di tengah era segala hal diintegrasikan kepada nilai akumulasi kapital dan perayaan kenikmatan bendawi dan indriawi melampaui segala hal kenikmatan apa pun, entah itu kenikmatan jiwa atau pikiran dan kenikmatan ruhani atau spiritual, segala hal yang bermakna telah tereduksi makna hakikinya sedemikian rupa pada akumulasi kapital dan perayaan bendawi dan indriawi.
Pilihan saya untuk tidak mengikuti perilaku yang diterima mayoritas yang dirayakan tanpa dipertanyakan (taken for granted) akan dianggap sebagai suatu anomali, pelanggaran, dan pada akhirnya dosa. Tidak peduli sesuatu yang saya pilih itu adalah sesuatu yang sangat bermakna untuk diri saya dan sangat sesuai dengan keadaan atau modus eksistensi (state of being atau mode of being) saya. Sistem sosial yang dibangun atas dominasi telah mengabaikan dan melupakan bahwa kehidupan yang saya jalani adalah milik saya. Di dalam kehidupan yang saya miliki itu sendiri terdapat kebebasan penuh di dalamnya sekaligus pertanggungjawaban saya akan perengkuhan hidup tersebut. Dominasi mayoritas telah melupakan bahwa kehidupan yang saya periksa demi perengkuhan makna telah tercakup sikap pertanggungjawaban di dalamnya. Tanpa tanggung jawab, hal itu bukanlah suatu pemaknaan. Kehidupan saya adalah milik saya sendiri. Dan, hal itu tidak berarti saya sedang membicarakan indiviualisme ekstrem, melainkan saya hendak menekankan bahwa kehidupansaya pada akhirnya bermuara pada modus eksistensi saya. Tentu saja, kehidupan saya tersalinghubungkan dengan kehidupan orang lain serta hidupan lainnya. Kesalinghubungan tersebut merupakan salahsatu dari bagian pemaknaan.
Saya berdosa atas pilihan saya di mata dominasi mayoritas. Akan tetapi, jikalau saya bersikeras merengkuh dosa tersebut, karena saya mengetahui bahwa hanya dengan dosa itulah saya menjadi lebih mengetahui makna hidup dengan lebih baik dan membuat saya menjadi paham dan meningkatkan kadar eksistensi saya, maka dosa tersebut menjadi Felix Culpa, dosa yang membahagiakan.
Misalnya, saya percaya bahwa ekonomi yang berdasarkan pada perayaan akumulasi dan ekspansifitas kapital sangatlah keliru. Ekonomi seperti itu, yakni kapitalisme, merupakan ancaman bagi seluruh hidupan, termasuk manusia dan alam di dalamnya. Karena corak ekonomi tersebut sangat menekankan pada kapital itu sendiri, bukan pada pemaknaan kehidupan dan nilai-nilai instrinsik di dalam kehidupan itu sendiri. Akhirnya, kapital adalah suatu bentuk relasi sosial, bahkan bentuk relasi manusia dengan manusia lainnya serta manusia dengan alam. Karena bersifat pada penekanan akumulatif dan ekspansif kapital, kapitalisme berdasarkan pada dominasi. Dengan demikian, relasi sosial yang dikondisikan oleh kapitalisme bisa dirumuskan sebagai suatu relasi manusia dominatif atas manusia lainnya sekaligus pada alam. Akhirnya, kapitalisme bukan soal antroposentrisme—seperti yang didengungkan oleh banyak orang—melainkan soal pendominasian. Jika antroposentrisme, maka seharusnya kekayaan kapital tersebut digunakan oleh manusia keseluruhan, dan hanya alam yang dieksploitasi manusia untuk kepentingan manusia. Pada kenyataannya, hal tersebut tidak demikian. Kekayaan kapital saat ini hanya untuk segelintir orang. Kekayaan alam yang dikeruk dengan nalar pertumbuhan ekonomi tanpa batas hanya untuk kepentingan segelintir orang. Jelas, ini dominasi yang dilakukan manusia kepada manusia lain sekaligus alam.
Dan, sesungguhnya ekonomi yang menjadi sendi perekonomian dunia saat ini, di mana kita di dalamnya, adalah kapitalisme. Ketika kita mengkritik kapitalisme, bahkan menolak kapitalisme, dunia serta merta memarjinalisasikan kita. Kita menjadi asing, teralienasi. Kita berdosa.
Ketika orang mulai mempertanyakan makna kehadiran negara di tengah kehidupan mereka dengan alasan tiap putusan yang diambil oleh negara, yang mana bisa diartikan putusan yang diambil oleh sangat sedikit orang, akan tetapi efeknya turut dirasakan oleh banyak orang. Segera orang itu dianggap memiliki pikiran kacau dan berkhayal. Ketika negara, yang diakui oleh para pakar dari pelbagai dispilin keilmuan ilmiah sebagai suatu institusi koersif, yang berarti memaksa, kita tetap merayakan dan mengamini kehadirannya. Kita tahu bahwa di dunia ini hanya negaralah yang memiliki alat kekerasan yang dibenarkan: militerisme (dan polisi—jika Anda hendak membedakannya dari militerisme). Karena negara satu-satunya lembaga yang sah untuk memiliki alat kekerasan, maka kita tidak berkutik bahkan akan menjadi salah ketika kita menolak dan mengkritik kekerasan oleh negara.
Banyak orang menjerit karena penderitaan yang harus mereka terima bukanlah mereka melulu penyebabnya, melainkan oleh suatu struktur sosial dan pandangan-dunia yang menyangga struktur tersebut. Mereka bekerja sampai keringat mereka tak menetes lagi. Mereka membangun rumah ala kadarnya di pinggiran jalan dan antero tanah tak bertuan atau tanah terbengkalai dengan ancaman penggusuran oleh negara. Mereka menyediakan makanan untuk orang banyak; mereka menyediakan dan mengadakan bahan-bahan kebutuhan dasar orang banyak, tetapi kadang mereka itu tetap terancam krisis pangan.
Mereka berusaha menjaga alam di kitaran lingkungan mereka. Karena mereka tahu bahwa alam adalah karunia dalam hidup mereka. Alam juga turut memberikan hidup kepada mereka. Mereka berusaha mempertahankan harmonisasi alam dengan diri mereka walaupun segelintir orang yang merayakan kapitalisme dengan alat kekerasan absah mengancam mereka. Masih banyak contoh peristiwa pergulatan atas pemaknaan hidup akan tetapi di mata dominasi mayoritas menjadi suatu hal keliru. Akan tetapi, semuanya mengerucut pada satu hal: penindasan.
Marah. Ledak. Mereka marah. Marah mereka meledak. Segera pelaku perayaan kapitalisme menggandeng negara untuk menghadang dan membentuk atau merekonstruksi pemaknaan mengenai apa yang baik dan apa yang tidak. Dengan alat kekerasan yang absah, negara dan peraya kapitalis mendakwa semua orang yang menentangnya sebagai suatu hal salah; berarti suatu dosa. Sebab, hanya dosa yang mendapatkan ganjaran; entah diteror, diculik, digusur, dirampas, bahkan dibunuh.
Ketika saya memilih untuk memahami pelbagai agama demi pemaknaan yang lebih baik mengenai agama, baik itu mengenai agama secara keseluruhan maupun untuk agama yang saya peluk, Islam, segera saya disalahkan. Ketika saya mendekati dan memaknai agama saya dengan cara yang jauh dari orientasi fikih (islamic jurisprudence minded), melainkan esoterik, segera saya dianggap bidah. Menyimpang dari ortodoksi. Oleh karena itu, tidak hanya putusan ateistik saja yang didaku salah, akan tetapi memilih cara belajar yang sesuai dengan pilihan sendiri, membangun sistem pemaknaan sendiri, menerima dan mengikuti pendapat yang tidak diakui secara ortodoks, juga turut disalahkan.
Salah bisa dipahami dari pelbagai konteks. Salah satunya adalah salah dalam konteks matematika. Ketika saya mengatakan bahwa 2 + 2 adalah 5, terang saya melakukan kesalahan. akan tetapi itu kesalahan matematis. Dengan demikian, salah menjadi hal lain jika salah tersebut dipahami dalam konteks moralitas dan keagamaan. Oleh karena itu jumlah 2 + 2 adalah 5 dalam novel George Orwell, yakni 1984, merupakan suatu jawaban dominatif, bukan jawaban matematis. Dalam dua konteks itu, salah berarti adalah suatu perbuatan dosa dan tindak kejahatan yang menentang kebaikan, sehingga layak mendapatkan hukuman.
Pertanyaannya adalah, bagaimana sikap kita ketika putusan kita yang paling bermakna untuk hidup kita ternyata berdosa di mata orang banyak?
Felix Culpa. Saya percaya bahwa orangtua saya memberikan nama itu kepada saya bukan tanpa pertimbangan. Saya mengerti sekarang. Dosa, kadangkala harus direngkuh jika itu memang bermakna. Orangtua hendak menekankan saya agar saya tidak gentar untuk memaknai hidup, kendati hal tersebut harus berdosa. Karena, pada akhirnya dosa itu akan membahagiakan, Felix Culpa.
Dan, tidak boleh dilupakan, bahwa kebenaran itu tidak bergantung pada suara pengakunya atau kebenaran tidak berdasarkan apa yang dipercayai oleh mayoritas. Kebenaran melampaui hal tersebut. Oleh karena itu, barangkali kita pernah mengalami suatu keadaan di mana sikap atau pilihan serta pandangan kita dianggap sebagai suatu hal salah oleh mayoritas. Karena kebenaran mengatasi penilaian tersebut, sesungguhnya tidak usah heran jika dengan putusan itu kita dianggap berdosa. Percayalah, dosa itu akan membahagiakan kita. Itulah Felix Culpa. Dan, itulah saya.
Begitulah, perkenalan dari saya.
Terima kasih atas kunjungan Anda pada weblog saya ini. Saya sangat berharap kita dapat berinteraksi dan merayakan hidup tidak hanya termediasikan oleh teknologi internet.
Selamat berdosa!
Salam,
Felix Culpa